Senin, 25 Desember 2017

5 Presiden Amerika yang Ternyata Punya Hobi Judi


Beberapa waktu lalu masyarakat Amerika sempat dikejutkan oleh pengakuan seorang mantan presiden, Barrack Obama, yang mengakui dirinya pernah terlibat di dalam permainan judi ilegal. Ya, kita tidak benar-benar kenal siapa Obama, lagipula kita tidak bisa berharap melihat seorang Obama dikawal oleh PASPAMPRES untuk menghabiskan waktu di Las Vegas. Padahal kalau saja Obama tahu, dia bisa dengan mudah bermain judi tanpa harus ikutan judi ilegal. Cuma tinggal kunjungi situs ini: http://www.mahabet.org



Bagaimana pun juga, ternyata Obama tidak sendirian. Beberapa presiden Amerika sebelumnya juga punya sejarah yang panjang dengan perjudian dan mereka benar-benar menikmatinya. Berikut ini adalah pengalaman berjudi beberapa orang yang pernah menjabat sebagai presiden Amerika.

1. Ruang Biliar di Monticello


Ruangan seperti kubah di atas rumah Thomas Jefferson adalah subjek yang menjadi kontroversi para sejarawan. Tempat ini lebih dikenal dengan sebutan ruangan biliar karena alasan yang cukup sederhana, ada banyak meja biliar di dalamnya. Namun begitu, ada perdebatan di antara para sejarawan jika ruangan ini memang dibangun untuk bermain biliar ilegal atau hanya ruang observatorium.

2. Perjudian di Gedung Putih


Cukup sulit untuk mencari keterangan rinci mengenai permainan kartu yang selalu dimainkan oleh Harding, mungkin karena tak seorang pun ingin menghabiskan waktu menulis untuk Warren G. Harding, salah satu presiden yang paling tidak efektif ketika menjabat. Harding tahu dia adalah presiden yang tidak berguna dan lebih memilih untuk menghabiskan waktunya bermain poker dan minum-minuman keras bersama kawan-kawan di pekerjaannya sebagai seorang presiden.

3. Permainan Poker di Rumah Obama


Sebelum ia menjadi presiden, Barack Obama adalah seorang senator baru di negara bagian Illinois yang cukup pandai. Ketika itu obama kurang memiliki pengaruh politik dan tidak ada rekan bisnis yang bisa dihubungi untuk menyelesaikan banyak hal. Solusinya? Permainan poker di ruang bawah tanah senator muda Terry Link, di mana semua orang seperti politikus dan konstituen bisa saling mengenal satu sama lain dalam sebuah pesta.

4. Kekalahan Poker Eisenhower

Presiden Dwight D. Eisenhower adalah salah satu pemain poker kelas kakap di antara para presiden yang hobi bermain poker. Membelanjakan uang kemenangan pertamanya untuk membeli seragam militer baru dan hariah untuk istrinya.



Ketika berada di Fort Meade, Maryland, Eisenhower ikut bermain di dalam permainan yang diselenggarakan 2 kali seminggu bersama dengan Kolonel George patton yang dimana seharusnya permainan ini hanya diikuti oleh para lelaki yang belum menikah dan tidak akan telalu bermasalah ketika kehilangan uang dalam berjudi.

Sang kolonel kalah beberapa kali dengan jumlah yang sangat besar kepada Eisenhower dan harus membayar seluruh hutangnya menggunakan uang bayaran selama perang yang ia dan istrinya selama ini tabung dengan susah payah.

Eisenhower merasa tidak enak dengan keadaan ini, jadi dia berkonspirasi bersama beberpa teman bermain judinya untuk sengaja kalah dan mengembalikan uang si kolonel yang tidak beruntung itu.

5. Catatan Keuangan George Washington


Presiden Washington dikenal dengan pribadi yang serius, berwibawa, disiplin, seseorang yang dianggap sebagai pribadi yang bisa mengubah sejarah, jadi mungkin beberapa orang berpikir bahwa presiden yang satu ini tidak akan mungkin terlibat dengan kegiatan kriminal seperti berjudi. Meski begitu, sejarah berkata lain, di waktu luangnya Washington juga sering bersantai dan menghabiskan waktu untuk berjudi.


Hal ini terlihat dari catatan keuangan miliknya, terdapat satu bagian khusus yang diberi nama 'Cards & Other Play' atau kartu dan permainan lainnya. Ia mencatat tanggal, lokasi, jumlah kalah dan menang di setiap sesi judi yang ia ikuti.

Sabtu, 23 Desember 2017

Che Guevara : Sang Revolusioner Amerika Latin


50 tahun yang lalu, berita dengan cepat menyebar ke seluruh dunia: Che Guevara telah meninggal, sekali lagi, dan kali ini, nampaknya untuk selamanya.

Meski begitu, organisasi yang mengendalikan berita tetap waspada. Sehari setelah dia ditembak mati di sebuah sekolah desa oleh pasukan Bolivia, kalimat ketiga dari sebuah artikel di halaman depan New York Times memberitakan, "Tuan Guevara, 39 tahun, telah dilaporkan terbunuh atau tertangkap sebelumnya."



Berita itu kemudian terbukti benar, begitu lah akhir sang legenda Che Guevara, yang membuatnya menjadi simbol yang semakin kuat. Dari seorang aktifis sayap kiri hingga menjadi simbol dari sebuah penentangan. Semua itu ia manfaatkan sebagai alat pemasaran. Kemudan banyak yang mengagumi bagaimana, di dalam kematiannya, para kaum komunis revolusioner pada akhirnya bekerja untuk kapitalisme.

Revolusi Kuba

Sebelum semua kejadian di atas, dikisahkan lah seorang pria, seorang dokter kelahiran Argentina yang pertama kali muncul ke atas panggung dunia selama Revolusi Kuba, ketika ia menjadi orang kepercayaannya Fidel dan Raul Castro.

Pada bulan Januari 1959, ketika revolusi berakhir dan Presiden Fulgencio Batista melarikan diri, para pemberontak yang dipimpin oleh Guevara yang baru saja sembuh dari cedera patah lengan, mulai merangsek masuk ke Havana. The Times melaporkan bahwa Guevara tidak ikut memimpin penyerangan terakhir karena cederanya tersebut.



"Perintah untuk pasukannya sangat sederhana," menurut berita dalam artikel tersebut. "Masuk dan serang!". Sebagai pemimpin yang mengendalikan pemberontakan, seorang reporter bertanya pada Guevara tentang apa yang akan dilakukan olehnya sekarang. "Kita akan menunggu Fidel," ucap Che.

Pada beberapa bulan dan tahun berikutnya, Che Guevara selalu ada untuk mengawasi eksekusi di penjara La Cabana sebelum akhirnya menjadi seorang menteri ekonomi tingkat tinggi dan diplomat. Ia berkeliling ke seluruh dunia termasuk Indonesia untuk mempromosikan cita-cita Kuba kepada negara-negara di dunia.

Kepergian dan Kematian

Pada bulan Oktober 1956, Fidel Castro mengkonfirmasi spekulasi yang berkembang: Guevara, seorang tokoh yang semakin misterius, telah meninggalkan Kuba. Castro membaca dengan keras sebuah surat yang ia katakan telah ia terima dari Che Guevara sendiri, yang mengatakan, "Saya merasa telah menyelesaikan semua tugas yang diberikan Revolusi Kuba kepada saya. Saya ucapkan selamat tinggal."

Ia menambahkan, "Negara lain membutuhkan jasa saya dan saya harus meninggalkan Anda."
Negara-negara yang dimaksud oleh Che adalah Kongo, yang telah melakukan upaya revolusioner selama enam bulan dan berakhir dengan kegagalan, dan kemudian Bolivia, yang membuatnya dikejar-kejar oleh tentara negara itu dan harus melarikan diri dengan dibantu oleh CIA.



Setelah Guevara ditangkap dan dibunuh dalam waktu yang hampir bersamaan, butuh waktu berhari-hari untuk dapat membuktikan kebenarannya. Angkatan Darat Bolivia awalnya mengumumkan bahwa ia telah tewas dalam bentrokan dan katanya, "(Che) mengakui bahwa telah gagaldalam gerilya sepanjang 7 bulan yang ia rencanakan di Bolivia," menurut berita di halaman depan The Times.

Keesokan harinya, berita kematiannya semakin jelas: "Sebuah laporan medis mengindikasikan bahwa Ernesto Che Guevara dibunuh setidaknya 24 jam setelah ditangkap di hutan tenggara pada hari Minggu," The Times mengabarkan.

Meski begitu, kematiannya masih diselimuti misteri ditambah dengan berita penguburannya yang rahasia di sebuah kuburan masal. (Tangannya dipotong dan diawetkan ke dalam formalin untuk membuktikan identitas aslinya.)


30 tahun setelahnya, Jon Lee Anderson yang menulis biografi tentang Guevara, menemukan lokasi tempat sang legenda dikuburkan secara masal dan kemudian dilakukan pemakaman kedua di Kuba sebagai penghormatan kepada pahlawan revolusi Amerika Latin, Che Guevara.

Selasa, 19 Desember 2017

Lech Walesa : Teknisi Ternama Aktifis Solidaritas Pekerja


Lahir pada bulan 29 September 1943, di sebuah desa bernama Popowo yang terletak di antara Warsawa dan Gdansk, seorang anak lelaki dari petani dan tukang kayu. Ia bersekolah di sekolah teknisi dekat Lipno dan sempat bekerja untuk sementara waktu sebagai teknisi listrik di Lochocin.
Setelah menyelesaikan tugas militernya dari tahun 1963 hingga 1965, Lech Walesa pindah ke Gdansk di mana ia bekerja sebagai teknisi listrik untuk Galangan Kapal Lenin.

Saat bekerja di sana, Walesa menjadi salah satu pelopor sarikat buruh yang menampung segala aspirasi para pekerja. Dalam menjalankan misinya di serikat buruh, ia memilih jalan damai dan tanpa kekerasan seperti negosiasi saat berhadapan dengan otoritas pemerintah.



Pada akhir tahun 1970, ketika kelangkaan dan peningkatan drastis harga makanan memicu aksi demonstraasi yang diwarnai kekerasan di galangan kapal di sepanjang pantai Baltik, Walesa terpilih sebagai ketua komite aksi serikat pekerja di Galangan Kapal Lenin. Di sana, pada tanggal 15 Januari 1971, ia termasuk salah satu di antara yang ikut menegosiasikan tuntutan pekerja dengan sekretaris utama partai komunis, Edward Gierek.

Setelah beberapa saat tidak terlibat dalam dunia politik, Walesa terpilih sebagai delegasi ke pertemuan Dewan Pekerjaan Galangan Kapal pada Februari 1976, di mana ia mengungkapkan tentang penentangannya terhadap pihak berwenang karena telah mengingkari konsesi yang disetujui dalam perundingan 1971. Setelah memutuskan untuk meninggalkan pekerjaannya di galangan kapal, ia menemukan pekerjaan di sebuah mesin konstruksi pada Mei 1976.

Membangun Persatuan Dagang

Sepanjang musim gugur 1976, Walesa terus berhubungan dengan Komite Pertahanan Pekerja atau dalam bahasa Polandia disebut KOR, yang berganti nama menjadi Komite Pertahanan Diri Sosial, yang didirikan pada bulan September 1976. Komite ini didirikan oleh para intelektual yang memberontak di Warsawa untuk memberikan bantuan kepada para pekerja yang diserang secara brutal di Warsawa dan Radom.



Juni demonstrasi dilancarkan untuk merespon kenaikan harga makanan, Walesa dan Aktivis Pekerja di Gdansk menyusun sebuah Piagam Hak Pekerja pada tanggal 29 April 1978, dan membentuk Komite Baltik untuk Serikat pekerja Independen tidak resmi untuk membela hak ekonomi, hukum, dan hak asasi pekerja.

Meski sibuk terlbat dalam gerakan serikat buruh bawah tanah, Walesa terus bekerja dengan serikat pekerja resmi yang dikendalikan pemerintah. Saat terpilih sebagai delegasi dalam pemilihan resmi serikat pekerja, ia memprotes manipulasi pemilihan yang mencolok dan pada bulan Desember 1978, Walesa dipecat dari pekerjaannya. Lima bulan kemudian tepatnya di bulan Mei 1979, Walesa mulai bekerja di perusahaan teknik Elektromontaz, di mana ia mendapatkan pengakuan sebagai teknisi listrik yang luar biasa.



Pendirian "Solidarnosc"

Walesa mengeluarkan piagam resmi Serikat Buruh Otonomi Independen di Gdansk pada tanggal 15 September 1980 saat sekretaris utama partai, Snanislaw Kania, memperpanjang Kesepakatan Gdansk ke seluruh negara. Pada tanggal 17 September 1980, Walesa terpilih sebagai ketua badan pembuat keputusan tertinggi dari serikat pekerja nasional yang baru yaitu Komisi Koordinasi Nasional Serikat Pekerja Otonomi Independen "Solidarnosc" (NSZZ Solidarnosc)


Memimpin sebuah delegasi besar, Walesa mengajukan undang-undang Solidarnosc ke Pengadilan Distrik Warsawa pada tanggal 24 September untuk pendaftaran sebagaimana dipersyaratkan oleh undang-undang. Dari bulan September sampai November 1980, Walesa menggunakan mekanisme "mogok kerja" secara efektif untuk melawan serangkaian konfrontasi yang dirancang oleh pihak berwenang untuk melemahkan dan menghancurkan Solidarnosc.